Menyusuri Situs Asta Tinggi Sumenep, Tempat Ziarah Penuh Sejarah
SERBATAU - Di antara
bukit-bukit kecil yang mengelilingi Kota Sumenep, terdapat sebuah kawasan yang
sejak ratusan tahun lalu menjadi saksi perjalanan panjang para penguasa Madura.
Namanya Asta Tinggi Sumenep, sebuah kompleks pemakaman raja-raja Sumenep
yang dikenal sakral, tenang, dan penuh nilai historis. Tidak sedikit peziarah
maupun wisatawan yang datang ke sini bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga
meresapi jejak-jejak budaya yang masih terjaga dengan baik.
Asta
Tinggi bukan sekadar makam. Ia merupakan fragmen sejarah yang tersusun dari
batu-batu tua, gapura elegan, hingga undakan-undakan yang memuat kisah tentang
kejayaan Sumenep tempo dulu. Siapa pun yang datang akan merasakan aura
kesunyiannya yang khas—semacam ketenangan yang membuat langkah melambat, seolah
tempat ini meminta setiap pengunjungnya untuk menghormati masa lalu.
Sejarah dan Asal-usul Asta
Tinggi
Asta
Tinggi dibangun pada era Panembahan Somala, salah satu penguasa Sumenep yang
dikenal bijaksana dan berpengaruh. Pembangunannya dimulai pada awal abad ke-19,
ketika kerajaan Sumenep masih menjadi pusat kekuasaan di wilayah timur Madura.
Sang raja menginginkan sebuah tempat pemakaman bagi dirinya dan para
keturunannya—sebuah kawasan di ketinggian yang menghadap langsung ke daratan
Sumenep.
Lokasi
ini dipilih bukan tanpa alasan. Bukit Asta Tinggi memberikan pandangan yang
luas dan strategis. Dari sini, garis pantai selatan hingga kota tua Sumenep
tampak seperti bentangan sejarah yang menyatu dalam satu panorama.
Seiring
berjalannya waktu, Situs Asta Tinggi berkembang menjadi kompleks pemakaman
keluarga kerajaan yang paling dihormati. Para penguasa Sumenep setelah
Panembahan Somala dimakamkan di kawasan yang sama, sehingga tempat ini semakin
dipandang sebagai pusat spiritual masyarakat Sumenep. Tradisi nyekar, haul,
atau kunjungan pada hari-hari tertentu terus dijalankan hingga kini—menjadi
tanda bahwa penghormatan terhadap para leluhur tetap hidup di tengah arus
modernisasi.
Arsitektur dan Tata Ruang:
Jejak Kerajaan dalam Batu dan Undakan
Salah
satu daya tarik Asta Tinggi terletak pada tata ruang dan arsitekturnya.
Bangunan-bangunan di dalamnya menunjukkan perpaduan gaya kolonial, Jawa, dan
Madura. Mereka berdiri di atas kontur tanah berundak, sehingga setiap bagian
terasa menjulang sekaligus mengakar.
1. Gapura Utama yang Megah
Pengunjung
akan disambut oleh gapura besar berwarna putih kekuningan. Bentuknya kokoh,
dengan detail ukiran yang sederhana tetapi terlihat anggun. Gapura ini menjadi
pintu masuk menuju lorong panjang yang membawa pengunjung naik ke area inti.
Pada sore
hari, cahaya matahari yang jatuh miring sering kali menciptakan siluet cantik
di balik gapura tersebut. Banyak peziarah berhenti sejenak di bawahnya, sekadar
menarik napas, atau membaca doa sebelum melanjutkan perjalanan.
2. Undakan dan Lorong yang Membawa ke Masa Lalu
Menuju
area inti, pengunjung harus menapaki undakan demi undakan. Jalanan sedikit
menanjak, tetapi tidak terlalu melelahkan. Justru ritme langkah yang perlahan
menciptakan suasana kontemplatif—seperti sedang mengikuti alur kisah panjang
para raja Sumenep.
Lorong-lorong
ini juga dipagari tembok putih yang bersih, menciptakan kesan teratur dan
elegan. Di beberapa bagian, terdapat pepohonan besar yang menaungi jalan,
memberikan keteduhan alami.
3. Area Paling Sakral: Cungkup Para Raja
Bagian
paling penting dari Asta Tinggi adalah cungkup—bangunan beratap khas yang
menaungi makam para penguasa Sumenep. Di sinilah Panembahan Somala, Ratu Ayu,
dan tokoh penting lainnya dimakamkan.
Cungkup-cungkup
tersebut memiliki desain yang kokoh, dengan pintu kayu berukir halus dan
interior yang tenang. Ketika memasuki area ini, suasana terasa jauh lebih
hening. Pengunjung biasanya memperlambat langkah, menjaga suara, dan meletakkan
bunga atau kemenyan sebagai tanda penghormatan.
Makna Sakral dan Tradisi
Ziarah
Bagi
masyarakat Madura, ziarah Asta Tinggi bukan hanya kunjungan spiritual
biasa. Ia adalah bagian dari identitas budaya. Peziarah datang untuk berdoa,
memohon kelancaran hidup, atau sekadar menyampaikan rasa hormat kepada para
leluhur yang berjasa memperkuat budaya dan pemerintahan Sumenep.
Tradisi
nyekar di Asta Tinggi biasanya dilakukan pada bulan-bulan tertentu, terutama
menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan momentum penting dalam kalender Islam. Pada
hari-hari tersebut, kompleks Asta Tinggi dipadati pengunjung, namun tetap dalam
suasana yang tertib dan penuh hormat.
Etika pun
sangat diperhatikan:
- Tidak berbicara keras
- Berpakaian sopan
- Tidak mengotori area makam
- Menghormati peziarah lain
Kesakralan
tempat ini membuat siapa pun secara otomatis melambatkan langkah. Bahkan mereka
yang hanya datang untuk wisata sejarah biasanya ikut merasakan atmosfer
ketenangan yang khas.
Pengalaman Menyusuri Setiap
Sudut Asta Tinggi
Setiap
sudut Asta Tinggi membawa warna cerita yang berbeda. Dari tempat parkir,
pengunjung sudah dapat melihat puncak bangunan cungkup tampak samar di balik
pepohonan. Suasana semakin berubah ketika melangkah naik—semakin hening,
semakin syahdu.
Banyak
pengunjung mengatakan bahwa pengalaman terbaik di Asta Tinggi adalah ketika
berada di puncak bukit. Dari sana, hamparan Sumenep terlihat tenang: deretan
rumah, jalanan kota, hingga area persawahan yang mengarah ke kejauhan.
Angin
yang berhembus dari arah timur terasa lebih sejuk. Sesekali terdengar suara
burung, menambah suasana damai yang sulit ditemukan di pusat kota. Ketika
matahari mulai turun, langit Sumenep yang berubah keemasan menjadi pemandangan
yang seolah mengajak pengunjung untuk kembali merenungi perjalanan waktu.
Asta Tinggi dalam
Perspektif Budaya Sumenep
Sebagai
salah satu situs paling penting di Madura, Situs Asta Tinggi bukan hanya
destinasi wisata religi, tetapi juga simbol kejayaan masa lalu Sumenep. Ia
menjadi titik temu antara sejarah, tradisi, dan spiritualitas.
Asta
Tinggi mengingatkan masyarakat bahwa identitas budaya Madura berdiri di atas
penghormatan kepada leluhur. Situs ini adalah pengingat bahwa nilai-nilai
seperti kesetiaan, keberanian, dan kebijaksanaan telah diwariskan sejak dulu
dan terus hidup dalam masyarakat Sumenep.
Informasi Kunjungan dan
Tips Berwisata
Bagi
wisatawan yang ingin berkunjung, berikut beberapa hal penting yang perlu
diperhatikan:
Jam Kunjungan
Asta
Tinggi terbuka sepanjang hari, tetapi waktu terbaik adalah:
- pagi (06.00–09.00)
- sore (15.00–17.30)
Selain
cuaca lebih nyaman, suasana juga lebih teduh dan fotogenik.
Harga Tiket
Gratis.
Pengunjung hanya perlu membayar parkir.
Akses
Asta
Tinggi berada sekitar 4–5 km dari alun-alun Sumenep. Akses jalan sudah baik,
bisa dilalui motor maupun mobil.
Tips
- Gunakan pakaian sopan.
- Siapkan air minum karena
area sedikit menanjak.
- Jaga kebersihan, buang
sampah pada tempatnya.
- Hormati peziarah lain,
terutama di area cungkup utama.
Asta
Tinggi Sumenep bukan
hanya destinasi yang memanjakan mata, tetapi juga ruang yang mengajak
pengunjung merenungi jejak sejarah yang telah ditinggalkan para raja Sumenep.
Kompleks makam ini menyimpan keheningan yang meneduhkan, kisah panjang yang
tidak mudah hilang, serta tradisi yang tetap hidup dari generasi ke generasi.
Siapa pun
yang datang ke Asta Tinggi akan membawa pulang perasaan yang sedikit
berbeda—semacam ketenangan yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih
lambat di bukit kecil tempat para raja beristirahat.
1. Apa yang membuat Asta Tinggi Sumenep begitu
terkenal?
Asta
Tinggi dikenal sebagai kompleks pemakaman raja-raja Sumenep yang sarat sejarah
dan menjadi pusat tradisi ziarah masyarakat Madura. Arsitekturnya yang unik,
lokasinya yang berada di ketinggian, serta suasana sakralnya menjadikan tempat
ini sangat ikonik.
2. Apakah Asta Tinggi cocok untuk wisata
non-religi?
Ya.
Selain menjadi tempat ziarah, Asta Tinggi juga cocok untuk wisata sejarah,
fotografi, dan edukasi budaya. Selama tetap menjaga etika dan kesopanan, siapa
pun dapat menikmatinya sebagai situs bersejarah yang penting bagi Madura.
REFRENSI
Website sumenepkab.go.id
website gosumenep.com


Posting Komentar