Mengenal Sejarah Drifting, Olahraga Otomotif yang Mendunia
SERBATAU - Siapa sangka sebuah teknik mengemudi ekstrem lahir bukan dari eksperimen canggih, melainkan dari sebuah “kecelakaan indah” di lintasan balap Jepang. Drifting, seni meluncur dengan ban berasap di tikungan, pertama kali mencuat pada era 1970-an. Kala itu, pembalap Kunimitsu Takahashi, mantan pebalap motor yang beralih ke mobil, secara tak sengaja melakukan sliding di tikungan sirkuit.
Namun yang mengejutkan, alih-alih kehilangan kecepatan, teknik sliding ini justru membuatnya mencatatkan waktu putaran lebih cepat. Dari sinilah cikal bakal sejarah drifting mobil dimulai—sebuah kombinasi antara kontrol, keberanian, dan insting. Lalu siapa sebenarnya sosok yang pertama kali mengubah “kecelakaan indah” itu menjadi sebuah teknik balap yang revolusioner?
Kunimitsu
Takahashi dan Teknik Sliding
Takahashi dianggap sebagai bapak drifting modern. Gaya
mengemudi khasnya, dengan sudut mobil miring melewati apex tikungan, segera
menarik perhatian penggemar. Meski pada awalnya hanya dianggap sebagai trik
aneh, teknik ini lambat laun diakui sebagai strategi kompetitif. Para pembalap
muda mulai menirunya, hingga lahirlah generasi baru yang lebih berani bermain
dengan batas kendali kendaraan.
Keiichi
Tsuchiya, Sang Drift King
Jika Takahashi yang menemukan benihnya, maka Keiichi
Tsuchiya-lah yang menyulut api drifting. Dikenal sebagai “Drift King”, Tsuchiya
kerap berlatih di jalanan pegunungan Jepang—tempat lahirnya fenomena street
racing. Pada 1987, ia merilis video berjudul Pluspy, yang menampilkan
dirinya melakukan drifting di berbagai lintasan.
Video ini menjadi viral pada masanya, mempopulerkan
teknik drifting ke kalangan lebih luas. Tak heran, Tsuchiya kemudian dijadikan
ikon budaya otomotif. Bahkan, banyak yang menyebut tanpa dirinya, drifting
mungkin tak pernah menjadi olahraga global seperti sekarang.
Dari
Jalanan ke Sirkuit Resmi
Kompetisi
Pertama dan Lahirnya D1 Grand Prix
Popularitas drifting yang makin besar membuat dunia
otomotif Jepang bergerak. Pada akhir 1980-an, majalah Option
menyelenggarakan kompetisi drifting pertama di Tsukuba. Ajang ini berhasil
menarik banyak penggemar dan pembalap jalanan untuk berkompetisi secara lebih
teratur.
Puncaknya terjadi pada awal 2000-an, ketika lahir D1
Grand Prix, kompetisi profesional drifting dengan format tsuiso atau
head-to-head. Format ini memungkinkan dua mobil bertarung di tikungan, dinilai
berdasarkan kecepatan, sudut drift, dan gaya pengemudi. Standar kompetisi ini
kemudian menjadi acuan global.
FIA
dan Pengakuan Internasional
Meski digemari, drifting sempat dipandang sebelah mata
karena dianggap tidak objektif—penilaian bergantung pada style, bukan sekadar
siapa tercepat. Namun, pada 2017, Fédération Internationale de l’Automobile
(FIA) resmi mengakui drifting sebagai disiplin motorsport. Setahun kemudian,
FIA Intercontinental Drift Cup perdana digelar di Tokyo, menegaskan legitimasi
drifting di panggung dunia.
Sejak saat itu, drifting tak lagi hanya milik jalanan
atau komunitas kecil. Ia sudah menjadi cabang resmi, disejajarkan dengan balap
lain seperti touring, rally, dan formula.
Drift
Culture Jepang dan Penyebarannya
Perkembangan
di Amerika dan Eropa
Berangkat dari drift culture Jepang, olahraga ini
menyeberang ke Amerika pada awal 2000-an. Formula Drift (Formula D) lahir
sebagai wadah resmi, dengan tokoh-tokoh seperti Rhys Millen dan Vaughn Gittin
Jr. membawa drifting ke level internasional. Eropa pun tak mau ketinggalan,
melahirkan ajang Drift Masters European Championship yang meriah dan penuh
talenta.
Drifting
di Asia dan Indonesia
Di Asia, kompetisi drifting berkembang pesat di
Malaysia, Thailand, hingga Timur Tengah. Indonesia pun ikut terpengaruh. Sejak
awal 2000-an, drifting mulai dikenal berkat pengaruh budaya otomotif Jepang,
manga Initial D, hingga video-video balapan jalanan.
Kompetisi drift di Indonesia mulai muncul sekitar
2010-an, terutama di Jakarta dan kota besar lainnya. Kini, komunitas drift
lokal semakin solid, bahkan menjadi bagian penting dalam festival otomotif
nasional.
Apa
yang Membuat Drifting Menarik?
Drifting bukan sekadar lomba siapa tercepat. Daya
tarik utamanya terletak pada keindahan gerakan mobil: asap ban mengepul, sudut
drift dramatis, suara mesin meraung, dan kontrol penuh dari sang pengemudi.
Inilah yang membuatnya disebut sebagai perpaduan antara olahraga dan seni
berkendara.
Bagi banyak orang, drifting adalah bentuk ekspresi.
Setiap drifter punya gaya unik—ada yang menekankan kecepatan, ada yang lebih
bermain di sudut ekstrem. Hal ini menjadikan drifting bukan hanya kompetisi,
melainkan juga tontonan yang menghibur dan penuh adrenalin.
Sejarah drifting membuktikan bahwa sesuatu yang lahir
dari “kesalahan” bisa menjadi seni luar biasa. Dari sliding Takahashi, aksi
spektakuler Drift King Tsuchiya, hingga pengakuan FIA, drifting kini berdiri
sejajar dengan motorsport kelas dunia.
Di balik asap ban dan tikungan ekstrem, drifting adalah kisah tentang inovasi, budaya, dan keberanian. Dari jalan pegunungan Jepang hingga sirkuit internasional, seni meluncur ini akan terus memikat hati pecinta otomotif. Bukankah sliding di tikungan itu… memang keren?


Posting Komentar