Motor Listrik untuk Ojol: Lebih Hemat atau Justru Rugi?
SERBATAU
- Seiring gencarnya program transisi menuju kendaraan
ramah lingkungan, motor listrik kian ramai diperbincangkan. Pemerintah memberi
subsidi hingga Rp 7 juta untuk pembelian baru maupun konversi dari motor
bensin. Tujuannya jelas: menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan
pada bahan bakar fosil.
Namun,
di lapangan, cerita yang datang dari pengemudi ojek online (ojol) tidak selalu
seindah kampanye. Banyak yang memang mengakui biaya operasional lebih hemat.
Tapi
di sisi lain, pendapatan mereka justru merosot, bahkan ada yang terpaksa balik
lagi ke motor bensin. Lalu, apakah benar motor listrik lebih menguntungkan
untuk ojol, atau justru bikin kantong tipis?
Hemat
Operasional Motor Listrik
Dari
sisi hitungan kasar, motor listrik memang terdengar menjanjikan. Sadeli,
seorang driver ojol, menuturkan biaya swap baterai hanya sekitar Rp 20 ribu
untuk jarak 100 km. Dalam sehari, ia bisa hemat hingga Rp 100 ribu dibanding
menggunakan bensin jika menempuh 500–600 km.
Selain
itu, motor listrik tak butuh ganti oli, jarang perlu servis, dan komponennya
lebih sederhana. Dari segi perawatan, jelas lebih praktis. Ini menjadi nilai
tambah yang sering disebut sebagai keunggulan utama kendaraan listrik ojol
dibanding motor bensin.
Tapi
cerita tidak berhenti di situ.
Biaya
Sewa dan Beban Driver
Mayoritas
driver ojol tidak membeli motor listrik secara pribadi. Mereka menyewa lewat
skema yang ditawarkan aplikasi atau perusahaan penyedia armada. Tarif sewanya
berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per hari, sudah termasuk baterai.
Bagi
sebagian driver, biaya sewa ini justru lebih besar daripada penghematan bensin.
Akhirnya, selisih pengeluaran tidak terasa. Bahkan, ada yang mengaku
pendapatannya semakin menipis karena beban sewa harian menggerus keuntungan.
“Kalau
pakai motor pribadi, bensin sehari paling Rp 40 ribu. Kalau sewa motor listrik,
ya boncos juga,” keluh seorang pengemudi di kawasan Depok.
Pendapatan
Ojol Justru Turun
Igun
Wicaksono, Ketua Asosiasi Pengemudi Ojol Indonesia, menyebut penggunaan motor
listrik menurunkan pendapatan driver 20–30 persen. Jika biasanya penghasilan
harian berkisar Rp 100 ribu–Rp 300 ribu, kini banyak yang hanya mengantongi Rp
70 ribu–Rp 250 ribu setelah dipotong biaya sewa dan kebutuhan lain.
Suyadi,
driver Grab yang menyewa motor listrik VIAR Q1 dengan biaya Rp 70 ribu per
hari, mengaku pendapatannya turun sekitar 20 persen. “Awalnya semangat karena
dibilang lebih hemat. Tapi setelah dijalani, hasilnya beda tipis bahkan
berkurang,” katanya.
Respons
Pelanggan terhadap Motor Listrik
Selain
faktor biaya, masalah lain muncul dari sisi pelanggan. Banyak penumpang yang
menolak motor listrik karena dianggap lamban dan kurang bertenaga di tanjakan.
“Pernah
dapat order, begitu lihat motornya listrik, langsung dibatalkan. Katanya lagi
buru-buru,” cerita Deni, driver ojol yang menggunakan motor listrik sejak awal
2023.
Stigma
ini membuat sebagian pengemudi merasa dirugikan. Orderan yang seharusnya bisa
jalan lancar, justru hangus karena calon penumpang tidak percaya dengan
performa motor listrik.
Kelebihan
yang Membuat Motor Listrik Tetap Menarik
Meski
begitu, bukan berarti motor listrik tidak punya penggemar. Ada juga driver yang
justru merasa nyaman. Nico, ojol asal Jakarta, mengaku senang karena motornya
lebih tenang, tidak berisik, dan tidak perlu antre di SPBU.
Motor
listrik juga lebih ramah lingkungan, tidak menimbulkan asap, dan cocok untuk
perjalanan dalam kota. Untuk ojol yang tidak menempuh jarak jauh, biaya
operasional bisa ditekan signifikan. Dari sisi gaya hidup, kendaraan listrik
ojol memberi citra lebih modern dan ikut mendukung transisi energi bersih.
Infrastruktur
& Dukungan Pemerintah
Sayangnya,
infrastruktur masih menjadi PR besar. Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan
Listrik Umum (SPBKLU) belum merata. Di beberapa kota besar, jumlahnya terbatas,
apalagi di daerah penyangga.
Selain
itu, suku cadang masih sulit ditemui, bengkel resmi belum banyak, dan mekanik
yang paham teknologi motor listrik jumlahnya minim.
Meski
pemerintah sudah menyiapkan insentif Rp 7 juta, ekosistem pendukungnya masih
jauh dari matang. Tanpa dukungan infrastruktur, insentif hanya jadi pemanis
sesaat.
Jalan
Panjang Menuju Ekosistem Kendaraan Listrik Ojol
Peralihan
ke motor listrik untuk ojol memang bukan perkara instan. Ada faktor ekonomi,
psikologis, hingga budaya berkendara yang ikut berperan.
Pemerintah,
aplikator ojol, dan penyedia armada perlu duduk bersama. Skema sewa harus
dibuat lebih adil, infrastruktur pengisian harus diperluas, dan edukasi kepada
masyarakat soal performa motor listrik perlu ditingkatkan.
Tanpa
langkah-langkah itu, motor listrik bagi driver ojol akan tetap terasa sebagai
beban tambahan, bukan solusi.
Motor
listrik memang menawarkan banyak potensi: hemat energi, praktis, ramah
lingkungan. Tapi bagi banyak driver ojol, realita belum sejalan dengan janji
manisnya. Pendapatan yang turun, sewa harian yang memberatkan, dan stigma
pelanggan masih jadi penghalang besar.
Solusinya
jelas: regulasi harus lebih berpihak, insentif jangan hanya berhenti di angka
subsidi, dan infrastruktur harus dipercepat. Dengan begitu, kendaraan listrik
ojol bisa benar-benar menjadi pilihan menguntungkan, bukan sekadar tren sesaat.


Posting Komentar