Copywriting vs Content Writing: Mana yang Lebih Cuan di Dunia Digital?
Bikin Konten Atau Iklan? Pilih Jalan Copywriter atau Content Writer!
SERBA TAU - Sama-sama nulis, tapi beda arah dan beda hasil. Di era serba digital, profesi penulis makin dibutuhkan. Tapi… nggak semua penulis punya peran yang sama. Dua istilah yang sering bikin bingung—copywriting dan content writing—padahal punya perbedaan yang cukup jelas.
Lalu, mana yang lebih menguntungkan? Yuk, kita bahas satu-satu biar kamu bisa pilih jalur yang paling pas buat karier digitalmu!
Apa Itu Copywriting dan Content Writing?
Sederhananya, copywriting adalah seni merangkai kata buat menjual.
Iya, nulis buat ngajak orang beli, klik, daftar, atau action apapun itu. Fokus utamanya: persuasi. Copywriter biasa ngisi bagian iklan, headline, caption promosi, hingga teks di landing page.
Sementara itu, content writing lebih ke arah informatif. Tugasnya ngasih pengetahuan, edukasi, atau hiburan lewat artikel blog, e-book, script YouTube, atau newsletter. Nggak selalu langsung jualan, tapi membangun kepercayaan.
“Copywriting itu kayak rayuan maut. Content writing? Itu ngobrol santai tapi bikin nempel,” ujar Maya Puspita, digital strategist dari Bandung.
Fokus Tulisan: Ajakan vs Edukasi
Kategori | Copywriting | Content Writing |
Tujuan utama | Mengajak audiens bertindak | Memberi informasi yang berguna |
Panjang tulisan | Singkat, padat, langsung to the point | Lebih panjang, detail, storytelling |
Gaya bahasa | Emosional, persuasive, urgent | Ramah, informatif, engaging |
Platform umum | Iklan, email marketing, landing page | Blog, artikel SEO, media sosial |
Contoh di Dunia Nyata
Copywriting:
- Judul iklan: "Beli Sekarang, Diskon 50% Hari Ini!"
- CTA di website: "Coba Gratis Sekarang"
- Caption promo di Instagram
Content Writing:
- Artikel: “7 Tips Bikin Website Cepat Naik di Google”
- E-book: Panduan Digital Marketing untuk Pemula
- Skrip video edukatif
Walaupun sama-sama nulis, tone dan hasil akhirnya bisa jauh beda!
Skill yang Dibutuhkan
Untuk jadi copywriter, kamu harus jago merangkai kata-kata singkat tapi mengena. Main di emosi, urgensi, dan pain point audiens.
Sedangkan content writer perlu riset yang kuat, storytelling yang ngalir, dan pengetahuan luas soal topik yang ditulis. Nggak cukup cuma bisa nulis—harus ngerti struktur konten juga.
Keduanya butuh kreativitas. Tapi cara mainnya beda!
Mana yang Lebih Cuan?
Jawabannya… tergantung!
Kalau kamu kerja di dunia startup atau agensi, copywriter biasanya dibayar lebih tinggi karena langsung berdampak pada konversi penjualan.
Tapi di sisi lain, content writer dibutuhkan untuk strategi jangka panjang—buat nge-boost SEO, membangun brand awareness, dan menjaga loyalitas audiens.
“Keduanya saling melengkapi. Tanpa copy yang kuat, konten bisa lewat begitu aja. Tapi tanpa konten yang konsisten, copy juga kehilangan konteks,” tambah Maya.
Gabungkan Dua-duanya, Kenapa Nggak?
Banyak brand besar yang punya tim terpisah buat copy dan content. Tapi buat freelancer atau UMKM, menguasai keduanya bisa jadi nilai plus.
Misalnya, kamu bikin artikel blog (content writing), tapi di akhir artikel ditutup dengan CTA yang kuat (copywriting). Strategi ganda yang efektif banget!
Kesimpulannya...
Copywriting dan content writing itu bukan saingan—tapi saudara. Sama-sama penting, sama-sama dibutuhkan.
Kalau kamu jago bikin orang tertarik, copywriting bisa jadi jalanmu. Tapi kalau kamu suka mendalam dan berbagi ilmu, content writing bisa lebih cocok.
Yang jelas, dunia digital butuh dua-duanya. Dan… yang paling cuan adalah mereka yang bisa menggabungkan keduanya secara cerdas.