Menperin Minta Toyota, Suzuki, dan Daihatsu Tak Naikkan Harga dan Hindari PHK
SERBATAU – Di tengah tekanan ekonomi global dan penurunan
penjualan mobil nasional, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang
Kartasasmita menyampaikan permintaan tegas kepada tiga raksasa otomotif
Jepang—Toyota, Suzuki, dan Daihatsu.
Dalam pertemuan
yang berlangsung di Paviliun Indonesia pada ajang World Expo 2025 Osaka, Kamis
(11/7), Menperin meminta supaya ketiganya tidak menaikkan harga kendaraan serta
tidak melaksanakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan di Indonesia.
Permintaan
tersebut mencerminkan kekhawatiran pemerintah terhadap stabilitas industri
otomotif nasional yang kini menjadi salah satu sektor strategis dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Konteks
Terkini Industri Otomotif
Sektor
otomotif saat ini berada dalam tekanan besar. Sejak awal 2025, berbagai faktor
seperti pelemahan nilai tukar, naiknya biaya logistik, dan inflasi global ikut
menekan kinerja industri ini. Di Indonesia, data Gaikindo mencatat penurunan
wholesale mobil hingga 8,6% menjadi 374.740 unit pada semester I-2025.
Tak
hanya itu, daya beli masyarakat juga mengalami tekanan yang cukup signifikan.
Jika harga kendaraan naik, dikhawatirkan akan terjadi penurunan penjualan lebih
lanjut dan memicu efek domino terhadap sektor pendukung lainnya.
Permintaan
Langsung: Jaga Harga dan Lapangan Kerja
Dalam
pertemuan di Osaka tersebut, Menperin Agus menegaskan dua hal utama:
- Tidak
menaikkan harga kendaraan dalam waktu dekat.
- Tidak melakukan PHK
serta justru membuka kesempatan kerja baru.
“Maka itu, saya
secara khusus meminta agar tidak ada kenaikan harga mobil dan tidak ada PHK di
Indonesia. Ini penting demi menjaga daya beli masyarakat dan menjaga lapangan
kerja di sektor otomotif, yang merupakan salah satu penopang industri nasional”
ujar Agus.
Menurutnya, Toyota,
Suzuki, serta Daihatsu ialah bagian penting dari rantai pasok industri otomotif
di Indonesia. Langkah mereka akan sangat
berpengaruh terhadap iklim usaha nasional.
Respons
Positif dari Prinsipal Otomotif Jepang
Permintaan
tersebut tak bertepuk sebelah tangan. Ketiga prinsipal asal Jepang itu
memberikan respons positif dan menyatakan komitmennya untuk:
- Menjaga harga
kendaraan tetap stabil.
- Menahan diri
dari melakukan PHK.
- Bahkan berencana guna
meningkatkan pelatihan SDM Indonesia di Jepang.
Toyota,
misalnya, siap mengembangkan program pelatihan dan peningkatan kapasitas
pekerja Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan industri
otomotif nasional.
"Kami
mengapresiasi komitmen yang diberikan oleh para prinsipal otomotif. Ini
menunjukkan adanya kesamaan pandang untuk menjaga keberlangsungan
industri," ujar Menperin.
Risiko
Jika Permintaan Tidak Diindahkan
Analis
industri menyebut, jika permintaan Menperin tidak direspon secara serius,
setidaknya tiga risiko besar mengintai:
1.
Penurunan Daya Beli & Penjualan
Kenaikan
harga mobil akan semakin membebani konsumen. Dengan
tekanan ekonomi yang telah ada, daya beli publik dapat anjlok serta berakibat
langsung pada penyusutan penjualan kendaraan.
2.
Efek Domino dari PHK
PHK
massal di pabrikan besar seperti Toyota, Suzuki, atau Daihatsu bisa berdampak
sistemik. Industri pendukung seperti supplier komponen, logistik, hingga jasa
keuangan ikut terdampak, belum lagi pengangguran yang meningkat.
3.
Sentimen Negatif Investor
Ketidakstabilan
harga dan tenaga kerja dapat merusak kepercayaan investor, terutama yang tengah
menjajaki investasi di sektor kendaraan listrik dan rendah emisi.
Langkah
Pemerintah: Tak Hanya Meminta, Tapi Juga Memfasilitasi
Permintaan
pemerintah dibarengi dengan kebijakan insentif. Beberapa langkah yang sedang
atau akan diterapkan antara lain:
- Pelonggaran
aturan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) untuk mobil rendah emisi.
- Fasilitas
fiskal dan deregulasi bagi industri yang berorientasi ekspor.
- Rencana pengendalian
pajak daerah (opsen) supaya harga kendaraan tetap kompetitif.
Langkah-langkah
ini diharapkan mampu mendorong efisiensi produksi tanpa harus mengorbankan
konsumen atau pekerja.
Sinergi
Pemerintah dan Dunia Usaha Jadi Kunci
Permintaan
Menperin Agus kepada Toyota, Suzuki, dan Daihatsu mencerminkan pendekatan aktif
pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional. Di tengah tekanan
global, kolaborasi yang baik antara regulator dan pelaku usaha menjadi kunci
agar industri otomotif tetap tumbuh dan berkelanjutan.
Komitmen
yang ditunjukkan oleh para prinsipal otomotif Jepang juga menjadi sinyal
positif bahwa dunia usaha memahami pentingnya stabilitas dan keberlanjutan di
pasar Indonesia.
Dengan
menjaga harga tetap terjangkau dan mempertahankan tenaga kerja, industri
otomotif tidak hanya bertahan, tapi juga bisa bangkit kembali dan berkontribusi
lebih besar terhadap perekonomian nasional.