Bukan Sekadar Kampus dan Sekolah, Ini Alasan Malang Disebut Kota Pendidikan
SERBATAU
- Apa yang pertama kali muncul di benak saat kita
mendengar kata “Malang”?
Mungkin sebagian langsung terbayang sejuknya udara Batu, jalanan yang
dikelilingi gunung, kuliner legendaris seperti bakso Malang, atau angkot biru
yang seakan tidak pernah absen dari tiap sudut kota.
Tapi
bagi ribuan pelajar dan mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, Malang punya
makna yang lebih dalam. Kota ini bukan sekadar destinasi wisata atau tempat
healing akhir pekan. Malang adalah tempat “ngluru kaweruh”—mencari ilmu,
mengejar mimpi, membentuk diri.
Julukan
Kota Pendidikan pun melekat erat pada kota ini. Tapi, pertanyaannya:
Apakah julukan itu sekadar label, atau memang mencerminkan denyut nadi kota
Malang yang sesungguhnya?
Malang
dan Pelajar: Seperti Magnet dan Logam
Sekolah?
Lengkap. Kampus? Komplet.
Tidak
berlebihan kalau Malang disebut kota yang tidak pernah kehabisan pelajar. Mulai
dari anak SMP yang bercita-cita jadi dokter sampai mahasiswa yang tengah
menulis skripsi, semuanya ada di sini.
Menurut data Badan Pusat Statistik Kota Malang (2023), jumlah mahasiswa aktif
di kota ini mencapai lebih dari 120 ribu orang. Itu belum termasuk pelajar SMA,
santri, maupun siswa SMK dari berbagai kabupaten sekitar.
Institusinya?
Lengkap dari yang negeri sampai swasta. Ada Universitas Brawijaya (UB)
yang rutin masuk jajaran universitas terbaik nasional. Lalu ada Universitas
Negeri Malang (UM), Polinema, UIN Maulana Malik Ibrahim,
sampai deretan kampus swasta seperti UMM, ITN, dan Universitas
Kanjuruhan.
Sekolah
menengahnya pun tak kalah bergengsi. SMAN 3 Malang kerap jadi langganan
olimpiade, sedangkan SMK Telkom Shandy Putra dikenal sebagai sarang
inovasi digital. Pilihan sekolah unggulan seperti ini memperkuat reputasi
Malang sebagai pusat pendidikan di Jawa Timur.
Belajar
Tak Selalu di Kelas
Komunitas,
Kopi, dan Kaweruh
Tapi
mari kita jujur: pendidikan sejati tidak cuma hidup di balik tembok kampus atau
ruang kelas ber-AC. Di Malang, semangat belajar merembes ke ruang-ruang yang
tak biasa.
Ambil
contoh Hutan Kota Malabar. Setiap Jumat sore, sekelompok pemuda berkumpul di
sana untuk berdiskusi tentang filsafat dan isu sosial—tanpa sertifikat, tanpa
absen, tapi penuh semangat.
Ada
juga kelas ngopi & ngoding di iCamp atau workshop menulis di
Kafe Pustaka. Dari diskusi sastra, pelatihan jurnalistik, sampai bootcamp
digital marketing, semua ada. Gratisan pun banyak.
Inilah
kekuatan Malang: ekosistem belajar yang hidup dan organik. Bukan sekadar
mengejar nilai, tapi menjadikan ilmu sebagai gaya hidup. Sebuah kota tempat
kamu bisa pintar, kritis, dan tetap nyantai.
PR
Kota Pendidikan
Masalah
Akses dan Biaya
Tentu,
tidak ada kota yang sempurna. Di balik julukan Kota Pendidikan, Malang juga
punya pekerjaan rumah yang belum selesai.
Pertama,
akses pendidikan di daerah pinggiran masih jadi tantangan. Pelajar dari
kawasan seperti Kedungkandang atau Tlogowaru masih bergantung pada transportasi
umum yang sering tidak ramah waktu. Belum lagi fasilitas sekolah yang berbeda
jauh kualitasnya antara pusat dan pinggiran.
Kedua,
biaya hidup makin mencekik. Harga kos melonjak tiap tahun. Dulu
mahasiswa bisa dapat kamar decent dengan Rp500 ribuan. Sekarang? Harga segitu
paling cuma dapat kamar tanpa jendela, kamar mandi luar, dan sinyal Wi-Fi yang
kadang-kadang muncul.
Pemerintah
kota harus segera bertindak agar pendidikan tetap bisa diakses semua kalangan.
Karena kalau tidak, julukan Kota Pendidikan bisa berubah jadi ironi bagi warga
aslinya.
Sejarah
Pendidikan yang Panjang
Bukan
hal baru sebenarnya jika Malang disebut Kota Pendidikan. Julukan ini punya akar
historis yang dalam.
Sejak
zaman kolonial, Malang sudah dikenal sebagai pusat pendidikan elite. Dulu ada Hollandsch-Inlandsche
School (HIS) dan Kweekschool yang mencetak calon guru Bumiputera.
Masa berganti, tapi reputasi itu tetap hidup. Malang jadi pilihan belajar bagi
para santri, calon guru, hingga teknokrat.
Di
sinilah letak keistimewaannya: pendidikan bukan tren musiman, melainkan bagian
dari identitas kota. Ia tumbuh seiring waktu, dari ruang kelas zaman Belanda
hingga ruang digital di era milenial.
Efek
Domino: Pendidikan dan Ekonomi Kota
Kehadiran
puluhan ribu pelajar dan mahasiswa jelas punya efek domino bagi Kota Malang. Ekonomi
lokal ikut menggeliat.
Lihat
saja sektor kuliner, laundry, toko ATK, jasa print, sampai startup co-working
space. Hampir semuanya tumbuh karena kebutuhan warga akademik. Bahkan banyak
warga lokal yang menggantungkan hidup dari aktivitas mahasiswa dari pemilik
kos, ojek online, sampai penjual gorengan.
Malang
juga sering jadi tuan rumah seminar nasional, lomba karya tulis, pelatihan
guru, dan festival kampus. Event-event ini mengalirkan dana segar ke berbagai
sektor.
Namun,
efek ini juga menuntut kota untuk siap secara infrastruktur: transportasi yang
aman, internet merata, dan ruang publik yang ramah pelajar.
Bukan
Soal Julukan, Tapi Semangat Belajar
Jadi,
apakah Malang layak disebut Kota Pendidikan? Jawaban paling jujurnya: iya, tapi
dengan catatan.
Julukan
ini bukan sekadar simbol. Ia hidup dalam kampus-kampus yang sibuk, komunitas
yang aktif, hingga guru dan dosen yang terus membagikan ilmunya.
Namun,
tugas menjaga gelar itu tidak berhenti pada membangun gedung baru atau
mendatangkan mahasiswa luar kota. Yang lebih penting adalah menciptakan sistem
pendidikan yang inklusif, terjangkau, dan memberdayakan—bukan hanya bagi
pendatang, tapi juga warga asli.
Karena
pendidikan sejati bukan soal label di baliho kota, melainkan bagaimana sebuah
kota tumbuh bersama warganya yang terus ingin belajar dan berbagi.