MBTI dalam Dunia Pendidikan: Bantu Anak Kenali Potensinya
Tipe Anak Pendiam
Bukan Berarti Malas: Yuk, Kenali MBTI dalam Pendidikan
SERBA TAU - Nilai bagus itu penting, tapi ngerti cara anak belajar
juga nggak kalah penting. Di tengah dunia pendidikan yang makin kompetitif,
satu pendekatan mulai dilirik: mengenali kepribadian anak lewat MBTI.
Bukan cuma buat tes
seru-seruan di Instagram, MBTI ternyata bisa jadi panduan buat guru dan orang
tua dalam menggali potensi si kecil. Karena, siapa bilang semua anak cocok
diajar dengan cara yang sama?
Anak
Bukan Mesin Fotokopi
Setiap anak punya cara
belajar yang beda-beda. Ada yang lebih nyaman baca buku sendirian, ada juga
yang baru semangat kalau diskusi rame-rame.
Sayangnya, sistem sekolah kadang masih pakai pendekatan seragam, seolah semua
murid bisa dikotakkan dalam satu metode belajar.
Kalau anak nggak cocok dengan metode itu, mereka bisa jadi minder atau dicap “malas”. Padahal, mungkin mereka cuma belum ketemu cara belajar yang sesuai kepribadian.
MBTI
Itu Apa, dan Kenapa Penting?
MBTI alias Myers-Briggs
Type Indicator adalah tes kepribadian yang ngebagi manusia ke dalam 16 tipe
berbeda. Mulai dari Introvert vs Ekstrovert, sampai ke Thinking vs
Feeling.
Nah, dari sinilah kita bisa paham pola belajar, cara komunikasi, sampai
motivasi belajar anak.
Tes ini sebenarnya udah
banyak digunakan di dunia kerja, tapi sekarang mulai merambah dunia pendidikan
karena dinilai bisa bantu pemetaan gaya belajar siswa. Kalau bisa dipahami
sejak kecil, kenapa nunggu gede dulu?
Anak
Aktif vs Anak Diam: Harus Sama?
Bayangin dua murid: si A
suka angkat tangan, jawab cepat, aktif banget. Si B? Lebih suka diam, mencatat,
mikir pelan-pelan.
Kalau pakai kacamata MBTI, bisa jadi si A itu tipe ESTP, sementara si B INFP.
Keduanya sama-sama pintar—cuma cara belajarnya beda.
Tapi di banyak kasus,
anak aktif cenderung lebih “dianggap” karena terlihat menonjol. Anak yang
kalem? Sering kali disepelekan atau bahkan nggak diperhatikan kebutuhannya.
Peran
Guru dan Orang Tua Nggak Bisa Di-skip
Nggak cukup cuma tahu
tipe MBTI anak. Yang penting, gimana orang dewasa di sekitarnya paham dan
menyesuaikan pendekatan.
Misalnya, anak tipe ISTJ lebih cocok tugas terstruktur, sementara ENFP
suka belajar lewat proyek kreatif dan ruang eksplorasi.
Guru bisa mulai dari hal
sederhana, kayak variasi cara mengajar. Orang tua juga bisa bantu dari rumah
dengan kasih ruang anak buat belajar sesuai gaya masing-masing. Kolaborasi dua
pihak ini penting banget.
MBTI
Bukan Label, Tapi Kompas Awal
Penting buat diinget:
MBTI bukan alat diagnosis, bukan juga cap permanen. Tes ini cuma satu dari
banyak cara buat memahami anak lebih dalam—sebagai langkah awal, bukan
kesimpulan akhir.
Kepribadian anak bisa berubah seiring waktu, jadi MBTI harus digunakan
fleksibel dan bijak.
Alih-alih mengotakkan
anak, lebih baik gunakan hasilnya untuk membuka diskusi dan mencari pendekatan
terbaik. Karena pada dasarnya, anak terus berkembang.
Saatnya
Stop Bandingkan, Mulai Pahami
Anak itu bukan template.
Mereka bukan harus jadi “pintar matematika” atau “jago ngomong” biar dianggap
berbakat.
Lewat pendekatan seperti MBTI, kita bisa bantu anak berkembang sesuai jalannya
sendiri, bukan berdasarkan ekspektasi luar.
Yang satu senang baca
buku, yang lain jago public speaking—semuanya punya potensi kalau dipupuk
dengan pendekatan yang tepat. Dunia pendidikan butuh lebih banyak pemahaman,
bukan perbandingan.
Jadi, kenapa nggak mulai
kenalin MBTI sejak sekarang? Bukan buat menentukan
masa depan anak, tapi buat bantu mereka mengenal diri, dan belajar dengan cara
yang paling pas buat mereka.