Malang Raya Bersiap! 15 Bus Trans Jatim Siap Jalan Oktober 2025
SERBATAU
- Harapan akan sistem transportasi publik yang nyaman
dan terintegrasi di Malang Raya akhirnya mendekati kenyataan. Pemerintah
Provinsi Jawa Timur resmi mengumumkan bahwa sebanyak 15 bus Trans Jatim
akan mulai beroperasi pada Oktober 2025 mendatang. Koridor pertama yang dibuka
akan menghubungkan tiga terminal utama, yakni Terminal Batu (Kota Batu),
Terminal Landungsari (Kabupaten Malang), dan Terminal Hamid Rusdi (Kota
Malang).
Proyek
ini bukan sekadar menambah pilihan moda, tetapi dirancang sebagai langkah awal
integrasi transportasi publik yang menggabungkan angkot dan bus besar dalam
satu jaringan layanan. Kehadiran koridor ini diharapkan dapat menekan angka
kemacetan, terutama saat akhir pekan, sekaligus menjadi model penataan angkutan
kota yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan.
Koridor
Pertama: Batu – Landungsari – Hamid Rusdi
Koridor
1 menjadi proyek percontohan dari total tiga koridor yang telah disiapkan
Pemprov Jatim. Menurut Kepala UPT P3 LLAJ Dinas Perhubungan Jatim, M. Binsar
Garchah Siregar, trayek ini diprioritaskan karena menghubungkan tiga daerah
sekaligus yang padat aktivitas dan lalu lintas. Ia menambahkan, “Koridor
Batu–Landungsari–Hamid Rusdi jalan lebih dulu sambil kami hitung kebutuhan
halte dan armada feeder.”
Di
Kota Malang, bus akan melintasi rute strategis yang sudah sangat familiar bagi
warga. Dimulai dari Terminal Hamid Rusdi, armada akan melaju melalui Jl.
Muharto, Jl. Kawi, Jl. Ijen, Jl. Bandung, Jl. Gajayana, Jl. MT Haryono, Jl.
Tlogomas, dan Sengkaling, sebelum akhirnya menuju Terminal Landungsari.
Sementara
itu, di Kota Batu, tiga titik halte prioritas sudah dipetakan: Desa Pendem,
depan Jatim Park 3, dan depan SMP Negeri 3 Batu. Menurut Kabid Angkutan Dishub
Kota Batu, Hari Juni Susanto, lokasi-lokasi tersebut dipilih karena sering
mengalami kepadatan lalu lintas, terutama saat hari libur dan musim wisata.
Armada
dan Fasilitas: Medium Bus dengan 40 Kursi
Untuk
tahap awal, akan dioperasikan 15 bus tipe medium berkapasitas 40 penumpang.
Dari jumlah tersebut, 14 unit akan aktif setiap hari, sementara satu unit
disiapkan sebagai cadangan. Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Widjaja Saleh
Putra, menyebutkan bahwa seluruh biaya pengadaan armada dan pembangunan halte
ditanggung langsung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemerintah kota dan
kabupaten hanya diminta memfasilitasi lahan dan izin pendukung.
Bus
Trans Jatim yang akan digunakan sudah dilengkapi dengan berbagai fitur
penunjang kenyamanan dan keamanan, seperti AC, kursi reclining, kamera pengawas
(CCTV), GPS, serta akses ramah difabel. Tak hanya itu, rencananya akan tersedia
pula panel informasi digital di beberapa halte untuk menunjukkan estimasi waktu
kedatangan armada.
Peran
Angkot dalam Skema Feeder
Salah
satu aspek penting dari proyek ini adalah integrasi angkutan kota ke dalam
sistem sebagai feeder. Skema ini akan memanfaatkan angkot eksisting
untuk mengantar penumpang dari kawasan permukiman ke halte Trans Jatim
terdekat. Dengan pendekatan ini, pemerintah tidak hanya membangun moda baru,
tetapi juga berupaya memberdayakan sopir angkot agar tetap mendapat ruang dalam
ekosistem transportasi perkotaan.
Kepala
Dishub Kota Malang, Widjaja, menjelaskan bahwa implementasi sistem feeder ini
akan dilakukan secara bertahap sembari berjalan. Pemetaan trayek dan
penyesuaian rute masih terus dibahas bersama pemerintah kabupaten/kota serta
pelaku transportasi lokal. Di sisi lain, DPRD Kota Malang juga mendorong
penerapan skema buy-the-service agar sopir angkot dibayar berdasarkan
jarak tempuh atau ritase, sehingga tidak tergantung sepenuhnya pada jumlah
penumpang.
Dampak
Positif: Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial
Jika
berjalan sesuai rencana, kehadiran Bus Trans Jatim Koridor 1 akan memberi
dampak positif di berbagai aspek kehidupan warga Malang Raya. Di sektor
ekonomi, trayek ini membuka akses lebih mudah ke kawasan wisata di Batu, sentra
kuliner Kota Malang, hingga area kampus di sekitar Dinoyo dan Lowokwaru. Dengan
sistem transportasi yang tertata, pelaku UMKM hingga pelancong harian bisa
menikmati perjalanan yang lebih nyaman dan efisien.
Dari
sisi lingkungan, penggunaan transportasi publik akan membantu mengurangi jumlah
kendaraan pribadi yang melintasi jalur padat. Diperkirakan satu bus bisa
menggantikan hingga 30–40 kendaraan pribadi, yang berarti ratusan kendaraan
bisa “dimatikan” setiap hari. Penurunan ini tentu akan berdampak pada
berkurangnya emisi karbon serta kebisingan jalanan, terutama di ruas-ruas
seperti Jl. Ijen dan Jl. Gajayana.
Tak
kalah penting adalah dampak sosialnya. Bus Trans Jatim memberikan alternatif
transportasi yang lebih aman, murah, dan inklusif bagi pelajar, lansia, maupun
pekerja informal. Tarif yang direncanakan berkisar Rp3.000 sekali jalan akan
menjangkau berbagai lapisan masyarakat, sehingga bukan hanya warga kelas
menengah ke atas yang bisa menikmati kenyamanan perjalanan.
Tantangan
Menuju Oktober
Meski
rencana operasional sudah disusun, sejumlah tantangan masih menanti. Salah
satunya adalah kesiapan infrastruktur halte. Pemerintah daerah menargetkan
pembangunan fisik selesai pada September 2025 agar uji coba operasional bisa
dimulai sebulan sebelumnya. Di samping itu, integrasi sistem pembayaran masih
menjadi PR tersendiri. Rencananya, sistem pembayaran nontunai menggunakan QRIS
dan e-money akan diterapkan di semua armada, meski implementasi penuh mungkin
dilakukan secara bertahap.
Masalah
lainnya adalah kesiapan warga dalam beradaptasi. Selama ini, budaya
transportasi publik di Malang Raya masih kalah oleh kendaraan pribadi.
Diperlukan kampanye edukasi yang masif agar warga mulai percaya dan nyaman
menggunakan bus umum.
Hadirnya
Bus Trans Jatim Koridor 1 merupakan langkah besar menuju kota yang lebih
ramah, terhubung, dan efisien. Bukan hanya menambah moda, tetapi juga mengubah
cara pandang kita terhadap transportasi publik. Tentu, suksesnya proyek ini tak
hanya bergantung pada armada dan halte, tapi juga pada kesadaran kita semua
untuk mendukung perubahan tersebut.
Jika
Oktober nanti benar-benar menjadi titik awal peluncuran, maka warga Malang Raya
akan mencatatnya sebagai babak baru: dari kota yang terjebak macet, menjadi
kota yang bergerak bersama.